
Tulungagung – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAI Diponegoro Tulungagung menampilkan karya puisi berantai bertajuk “Cermin Kehidupan” dalam rangkaian Pagelaran Seni PGMI yang dibimbing oleh Dyah Aris Susanti, M.Pd.I. Penampilan ini menjadi salah satu sajian yang menarik perhatian karena mengangkat berbagai fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Puisi berantai tersebut dibawakan oleh Kelompok 2 yang terdiri dari:
- Nurussariroh
- Dwi Lestari
- Elista Aprilianingtyas
- Ferdila Eky Endianto Putri
- Inma Uttaslimah
- Novita Sekar Arum
- Putri Mazinatul Luthfiya
- Reggina Salsa Erdiana
Melalui delapan tokoh dengan karakter dan latar belakang yang berbeda, para mahasiswa menyuguhkan refleksi tentang kehidupan sosial yang penuh warna. Setiap tokoh menyampaikan sudut pandang dan pengalaman hidup yang menggambarkan berbagai realitas yang ada di tengah masyarakat.
Tokoh Dwi digambarkan sebagai seorang istri ketiga yang tetap percaya diri dan bersyukur karena diterima apa adanya meskipun memiliki masa lalu yang tidak sempurna. Sementara itu, Elista hadir sebagai sosok waria yang berjuang mencari nafkah dan berharap dihargai sebagai manusia tanpa harus menerima ejekan atau diskriminasi.
Tokoh Putri mewakili generasi kreatif sebagai seorang konten kreator yang berusaha mengikuti perkembangan tren demi memperoleh popularitas dan penghasilan. Berbeda dengan Sari yang digambarkan sebagai pengemis jalanan yang hidup dalam keterbatasan dan terpaksa meminta belas kasihan karena merasa tidak memiliki pilihan lain.
Penonton juga diajak melihat sisi kehidupan melalui tokoh Reggina, seorang preman yang mengandalkan ancaman dan intimidasi untuk memperoleh keuntungan. Kemudian Novita tampil sebagai simbol “tikus berdasi” yang menggambarkan perilaku korup dan serakah, mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memedulikan penderitaan masyarakat.
Nuansa puisi menjadi lebih puitis melalui tokoh Eky yang berperan sebagai pujangga romantis, menghadirkan ungkapan cinta dengan bahasa yang indah dan penuh makna. Sementara itu, Inma menggambarkan sosok pekerja keras sebagai tukang sampah yang bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan meskipun kerap dipandang sebelah mata.
Melalui penampilan ini, mahasiswa PGMI tidak hanya menunjukkan kemampuan bersastra dan berteater, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam. Puisi berantai “Cermin Kehidupan” mengajarkan pentingnya menghargai setiap individu tanpa memandang status sosial, pekerjaan, maupun latar belakang kehidupannya.
Pesan yang ingin disampaikan kepada penonton adalah bahwa setiap pekerjaan yang halal memiliki nilai mulia dan berkontribusi bagi kehidupan bersama. Sebaliknya, keserakahan, korupsi, dan tindakan yang merugikan orang lain hanya akan membawa dampak negatif bagi masyarakat. Popularitas dan materi bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui Pagelaran Seni PGMI ini, mahasiswa STAI Diponegoro Tulungagung berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai edukatif. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat terus menjadi wadah pengembangan kreativitas mahasiswa sekaligus media penyampaian pesan-pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Karena setiap manusia, dengan latar belakang yang berbeda, sama-sama berhak untuk dihargai dan diperlakukan dengan penuh hormat.” demikian pesan utama yang menjadi benang merah dari penampilan puisi berantai tersebut.