TULUNGAGUNG – Dalam upaya memperkuat nilai-nilai toleransi dan menjaga warisan intelektual Islam, STAI Diponegoro Tulungagung bekerja sama dengan UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk “Moderasi Beragama dan Digitalisasi Manuskrip dalam Pengabdian Berbasis Pesantren.”
Acara ini berlangsung khidmat pada Jumat, 8 November 2024, bertempat di Aula Pondok Pesantren Al Asror, Tulungagung. Kegiatan ini dihadiri oleh para santri, pengurus pesantren, serta jajaran akademisi dari kedua institusi tersebut.
Pesan Moderasi dari Dyah Aris Susanti, M.Pd.I.
Hadir sebagai narasumber utama, Dyah Aris Susanti, M.Pd.I. dari STAI Diponegoro Tulungagung, menekankan pentingnya peran santri dalam menjaga keseimbangan beragama di tengah arus informasi digital yang begitu cepat. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa pesantren adalah laboratorium terbaik untuk mempraktikkan moderasi beragama.
“Moderasi beragama adalah kunci untuk merawat keberagaman bangsa. Santri harus mampu menjadi penengah yang bijak, tidak terjebak dalam arus ekstremisme, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin,” tegas Dyah Aris Susanti di hadapan para peserta.
Digitalisasi Manuskrip: Menyelamatkan Ilmu Ulama
Selain fokus pada moderasi, kegiatan ini juga memberikan edukasi mengenai pentingnya digitalisasi manuskrip. Mengingat banyaknya kitab-kitab klasik hasil karya ulama terdahulu di pesantren yang rentan rusak secara fisik, penggunaan teknologi digital menjadi solusi untuk preservasi.
Tim pengabdian menjelaskan bahwa dengan digitalisasi, naskah-naskah kuno tersebut tidak hanya terjaga dari kerusakan fisik, tetapi juga dapat diakses secara luas oleh peneliti dan generasi mendatang melalui platform digital.
Kolaborasi Strategis Dua Institusi
Sinergi antara STAI Diponegoro dan UIN SATU Tulungagung dalam kegiatan ini membuktikan komitmen perguruan tinggi untuk hadir langsung di tengah masyarakat. Kerja sama ini diharapkan dapat terus berlanjut dalam berbagai program pengabdian dan penelitian berbasis pesantren di masa depan.
Acara diakhiri dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan para santri, serta penyerahan kenang-kenangan sebagai simbol kuatnya jalinan ukhuwah akademik antar kedua kampus di Tulungagung tersebut.

Penulis: Tim Humas Editor: Redaksi Website